14
Nov
08

Pelajaran Hidup dari Mahasiswa Azhar

Hari terakhir di Kairo, sengaja saya gunakan “jalan-jalan”. Pagi ke KBRI, untuk konfirmasi dengan salah satu konselor. Kelar menjalang adzan Dhuhur, setelah sejenak basa-basi. Sebelum melanjutkan perjalanan mampir di lokasi syuting, di daerah Attaba, sekalian pamitan dengan para kru dan artisnya. Hari itu saya ingin menuntaskan rasa penasaran, setelah berhari-hari lihat bangunan tua. Kemana? Ya, ke Star City, sebuah mal (ter) besar (saya kira) di Nasr City.
Ya, selama di Kairo, mata saya memang lebih banyak mengagumi bangunan-bangunan tua dengan sejarah yang tak habis-habisnya dibahas. Gak ada salahnya, kan, di akhir kunjungan, mencari hal yang beda? Ah…setelah tawaf keliling tiap lantai, saya malah kecewa. Gak ada yang istimewa di sana. Barang-barang yang dijajakan, tak menarik perhatian saya. 
Entah apakah Dayat,  sopir yang juga jadi pemandu saya  tahu saya kecewa. Yang pasti ia hanya nurut saya ajak pulang  ke penginapan, untuk packing barang. Apalagi malamnya, saya janji untuk jalan bereng dengan teman yang juga narasumber saya di Kairo.
Seperti yang saya bilang, jam 7  Dayat, mahasiswi Al Azhar tingkat akhir jurusan Usuluddin ini sudah muncul di penginapan dengan jaket hitam. Saya bersama Dayat menuju flat teman saya di building 11, Mizaratul Difak, Nasr Road. Kami pun mencari restoran mesir yang menyediakan menu dara goreng. Konon, katanya, menu ini yang paling pas di lidah orang Indonesia. Entahlah, karena ternyata kami salah pesan. Menu yang datang, dara goreng, sih… tapi di dalamnya diisi nasi. Kami pun hanya cekikikan.
Pulang tepat tengah malam. Di depan penginapan, Dayat menghitung uang sewa mobil plus jasa sopir. 14 jam total saya menyewa. Lalu Dayat mengalikan denga 10 Pounds. Kok, 10 puonds? Di awal perjanjian, kan, per jamnya, 15 pounds? Kata Dayat, pemilik mobil tadi menelepon, kalau di atas 10 jam, dihitung saja 10 pounds per jamnya. Sementara untuk jasa sopir, 5 pounds perjam. Tapi dia membulatkan hanya 60 pound saja. jadi saya hanya diminta bayar 200 pounds saja.
Saya sebenarnya ingin memeluk pemuda dari Kalimantan itu. Tapi saya takut dikira Ryan. :) Saya begitu kagum dengan kejujurannya. Kalau toh dia tak menyampaikan pesan dari pemilik mobil ke saya, saya juga tak tahu dan tak keberatan membayar sesuai perjanjian awal. Dia juga rela memotong uang jasanya 10 pounds karena saya mengajaknya selama 14 jam.
Di akhir pertemuan, saya minta Dayat mendoakan saya agar bisa jujur seperti dia. Karena saya yakin doa Dayat pasti lebih didengar Allah. “Insya Allah, Pak. Saya doakan Bapak dan keluarga.” Saya makin terharu, ketika ia menyebut serta keluarga. Ah….saya masih egois…rupanya. Plak! saya seperti ditampar Dayat.
Inilah puncak pergaulan saya selama dua pekan dengan anak-anak Azhar di Kairo. Mereka benar-benar tulus, jujur, dan santun. Makin lama, saya makin merasa “tak berharga” dibanding mereka. Ada Tohir yang meski capek, tak pernah mengeluh diajak ke sana-kemari. Arif selalu aktif memantau semua kebutuhan saya, menemani saya, meski di luar itu tugas dia sangat banyak. Ada Ojie yang cerewet tapi total membantu saya. Juga Adenk yang begitu pengertian yang di akhir pertemuan, saya diberi pengalaman menggetarkan di jalan raya. Mereka membantu tanpa pamrih. Bahkan ketika sampai di Indonesia, mereka masih aktif menanyakan kabar.  Juga teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan.
Saya banyak menemukan segudang pelajaran hidup dari mereka yang secara umur masih belia.


0 Responses to “Pelajaran Hidup dari Mahasiswa Azhar”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




a

 

November 2008
M T W T F S S
« Oct    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930