26
Oct
08

Belajar Setia pada Profesi

Ada cerita klasik dari seorang teman. Sudah 5 tahun ini menekuni bidang asuransi. Sukses? Ya, susah ngukurnya. Yang jelas, ia bisa menghidupi istri dan dua anaknya, yang bungsu baru nongol akhir Ramadhan lalu. Tinggal di kompleks perumahan menengah di wilayah Pamulang, Tangerang. Rumah itu, cerita teman saya, dibeli cash, setelah menjual mobil minibus plus uang tabungan dan pinjam sana-sini. Sekarang ke mana-mana dengan motor, tapi  kelas motor premium.

Setiap ketemu, dia selalu cerita soal kegamangannya kerja di asuransi. Kenapa? Alasan pertama, dia tak punya basic soal asuransi. Alasan yang selalu saya bantah mentah-mentah. Wong sudah 5 tahun kerja tanpa henti, kok, bilang gak punya basic. Maksud dia mungkin, kuliahnya, kan, di Fakultas Hukum, kok kerjanya di asuransi. Cari nasabah lagi.

Alah..kalau cuma itu alasannya, ya….kurang kuat. Berapa juta pekerja yang menjalani profesi tak sesuai dengan ilmu yang didapat di kuliahan. Memangnya kalau lulusan Fakultas Hukum harus jadi Jaksa, Hakim, Pengacara, Notaris atau kerja di bagian legal perusahaan? Ah…betapa sempit pilihannya. Cobalah tengok kanan kiri, berapa banyak, sih, orang yang profesinya sejalan dengan apa yang didapat di bangku kuliahaan.

Idealnya, kan, begitu. Dia masih ngotot. Saya pun menjawab tanpa dasar dan rada-rada nyasar dari pembicaraan. Kata saya, kalau pengen hidup ideal, ya sana pergi ke surga. Katanya, sih, di sana semua serba sempurna.  Apa iya? Yang pasti janji-Nya, kan, begitu. Gak nyambung, kan?

Rasanya diskusi dengan topik demikian, bagi saya tak penting. Atau istilahnya, “basi, tauk!”. Akan lebih penting menyoal bagaimana tiap bulan atau semesteran target dari perusahaan terlampaui. Atau kalau memang tidak enjoy dengan profesi sekarang, bagaimana cari pekerjaan yang lebih nyaman di pikiran dan badan. Itu menurut saya yang lebih berguna didiskusikan. Anda sepaham? (Kalau sepaham, silakah baca cerita saya selanjutnya. Jika tidak, segera tutup window ini atau klik back, monggo…jangan buang waktu, masih banyak blog yang lebih bermutu).

Ketika dia cerita soal istrinya yang kadang keberatan ketika dia Sabtu atau Minggu menemui calon nasabah, saya baru tergugah untuk menyimak keluhannya. Wah, kalau yang ini lebih menarik diperbincangkan. Kalau benar, dia pergi di akhir pekan untuk memprospek calon nasabah, ya seharusnya didukung, kan? Tapi kalau dia ngabur cari selingkuhan, ya..pantaslah kalau istri keberatan. Karena ini lebih serius, saya ngajak ngobrol di terasnya. Tujuannya, sebenarnya biar saya juga bisa ngudud, tentunya.

Padahal dia cerita, ketemu calon nasabah Sabtu atau Minggu lebih punya potensi. Kalau hari kerja,  waktu calon nasabah, kan, terbatas. Paling-paling hanya lewat telepon atau menyita waktu makan siang. Nah, kalau memprospeknya di rumah, kepastian ya dan tidak juga bisa didapat dengan cepat. Biasanya, kata teman saya, meski sudah tertarik ikut asuransi, calon nasabah akan tanya dulu ke pasangannya. Kalau di rumah, kan, pasangannya juga ada. Bahkan, tambah dia, kalau pasangan masih ragu-ragu, teman saya bisa langsung meyakinkan. Wah bener juga ya….

Saya lalu cerita soal kecintaan pada profesi. Enggak berat sih, soal pengalaman ayah saya sebagai seorang petani. Saya bilang, ketika musim kemarau, ayah saya kerap ke sawah saat tengah malam. Ya, karena giliran air datang ketika orang sedang dipeluk mimpi. Di kampung saya, kalau kemarau tiba, pengairan selalu giliran. Para petani sudah membuat jadwal pengairan. Sawah bagian ini dialiri dialiri jam sekian sampai sekian. Begitulah….

Ibu pun kadang bersungut-sungut. Orang waktunya tidur, kok, malah ke sawah. Tapi ayah saya tak pernah terpengaruh. Ia tetap jalan. Kata ayah saya, kalau pengen kerja dengan jam teratur, ya, jadi pengawai negeri. “Saya ini petani, Bu. Kalau saya tak berangkat sekarang, ya, sawah kita akan kekeringan.”

Sekarang saya makin paham, rentetan panjang di balik kutipan kalimat ayah saya di atas. Kalau sawahnya kekeringan, tentu tak jadi penen. Kalau tak panen, kami sekeluarga tak bisa makan. Saya pun mungkin tak bisa melanjutkan sekolah. Jadi kepergian ayah saya tengah malam itu, punya rentetan yang panjang ke belakang.

Tapi sebenarnya bukan itu intinya. Keteguhan ayah saya ini, menurut saya, sebagai suatu bentuk kesetiaan profesi. Dia paham betul apa yang menjadi pilihannya, sebagai petani yang kadang menuntut harus ke sawah tengah malam. Atau kadang pagi-pagi sekali harus sudah di sawah, sebelum burung cari sarapan  padi. Bagi seorang petani, panen padi, kan, satu-satunya harapan keluarga bisa hidup. Jadi apapun harus dilakukan.

Mudah-mudahan teman saya paham apa yang saya ceritakan dan bisa meyakinkan istrinya. Untuk Anda semua, sudahkah setia, tak hanya pada pasangan, tetapi juga pada profesi? Saya, sih, masih belajar dan sampai sekarang belum khatam.   

Foto: nyomot dari internet.
 
 
 
 

 


2 Responses to “Belajar Setia pada Profesi”


  1. October 27, 2008 at 3:20 pm

    saya juga setia pada profesi genjot cak, makanya sabtu minggu diusahan untuk tidak dirumah.. :-)

  2. November 9, 2008 at 12:49 pm

    hanya mau bilang; Selamat Siang,mas.
    Sudah lama sy tdk berkunjung ke’rumah’mu ini.
    bagaimana khbrnya?
    salam dari Sidoarjo.


Leave a Reply




a

 

October 2008
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031