Selembar selebaran nyampir di pintu garasi, Sabtu pagi. Judulnya, Bazar Buku Murah. Selain menyebutkan waktu dan tempat pelaksaan (yang ditulis dengan tangan), selebaran fotokopian itu juga memuat daftar judul buku plus harganya. Ada sekitar 150 buku yang ditawarkan. Dari buku TK sampai buku-buku urusan akherat..
Bikin Bazar Buku di kompleks sekecil ini? (kompleks tempat tinggal saya ada sekitar 130 rumah). Apa iya bakal laku? Terus siapa yang mau beli? Apalagi judul buku-buku yang ditawarkan, menurut saya, tidak ada yang istimewa. Gak percaya? Ini saya kutip dari daftar buku katagori komputer yang ditawarkan. Ada lima judul: 1. Pengetahuan Dasar Komputer, 2. Dasar Pengoperasian Komputer, 3. Word/Exel/Internet/Autocad, 4. Photoshop, dan 5. Merakit Komputer/Power Point/Corel. Anda berminat?
Harga yang ditawarkan juga bukan harga istimewa. Untuk buku-buku komputer di atas, dibandrol dengan harga antara Rp 15 ribu sampai Rp 25 Ribu. Buku yang termurah judulnya Kumpulan Lagu Lagu Ngetop yang diberi harga Rp 3 ribu. Sedangkan yang tertinggi, Al Quran HVS Terjemahan Plus Latin Assalam, seharga Rp 180 ribu.
Sore, selepas hujan ada keriaan di depan rumah. Saya belum ngeh. Saya pikir anak-anak main di lapangan. Baru menjelang magrib saya baru tahu, ternyata keriaan dari bazar buku itu. Beberapa tetangga mengelilingi lapak Bazar Buku itu. Dari anak-anak hingga bapak-bapak. Bahkan ketika saya akan memotret dari teras, ada tetangga yang sudah pulang sambil menenteng 2 plastik buku. “Mumpung lagi murah, Pak Kris, diborong…” Saya pun mengiyakan. Kerumunan itu baru bubar setelah dari masjid terdengar suara adzan.
Bazar Buku itu ternyata cukup laku! Ya, paling tidak yang saya amati. Ada saja yang ditenteng para tetangga saat pulang. Anak-anak pun tampak senang saat membawa buku belanjaannya pulang. Ada yang sambil ngebut dengan sepedanya, ada pula yang berlarian menuju rumah. Seakan-akan mereka ingin segera membaca bukunya. Pembantu saya tak mau ketinggalan. Ia pulang juga membawa belanjaan. Saya melirik, judul bukunya, “Asmaul Husna”. Setelah saya cek di daftar, harganya Rp 5 ribu. Ketika malam menjelang, penjual pun mulai kewalahan.
Sekali lagi, saya salah prediksi. Saya menganggap bazar buku akan dijejali pembeli hanya di pameran besar, semacam yang digelar Ikapi. Atau cuci gudang yang kerap diadakan penerbit besar di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Ternyata bazar buku sekelas RT pun tetap punya potensi. Meski omsetnya hanya ratusan ribu.
Saya jadi ingat cerita teman yang kini sukses jadi dealer motor rumahan. Awal tahun 2000 ia memilih di-PHK setelah tempat mengantung hidup dilikuidasi. Dari uang pesangon itu, ia membeli dua mobil untuk disewakan. Namun, baru dua tahun berjalan, mobil tinggal satu. Entah dari mana idenya, ia banting usaha jadi dealer rumahan yang kala itu masih langka.
Setahun dua tahun, belum banyak perkembangan. Tapi setelah itu, “parkiran” motor di terasnya makin panjang. Bahkan, sang teman sekarang sudah punya satu karyawan (tetap) dan 2 karyawan harian. Motor yang dipajang juga tak hanya motor baru, tapi juga motor-motor second yang masih kelihatan anyar. Padahal begitu gagal jadi pengusaha rental, saya sudah pesimis ketika ia banting setir jadi pengusaha dealer rumahan.
Jadi sekali lagi, saya (selalu) salah prediksi.

barusan sabtu bazar buku ada di komplekku….
entah dr mana…
tapi lumayanlah… kamus lengkap basa sunda cuman 35000 saja…
buwat ngingetin that i’m sundaness ….
wakakakakaakak….
sunda kok namanya heru …
pepep gituuuu… biyar dibulak balik tetep